Bangau kertas bertanya, “Kenapa kau berwarna merah muda?”
Karena es krim stroberi berwarna merah muda.
—————————————————————————————————
Jika bunga bejana menyukai es krim neapolitan, apakah dia akan berwarna seperti warna es krim neapolitan?

Bangau kertas bertanya, “Kenapa kau berwarna merah muda?”
Karena es krim stroberi berwarna merah muda.
—————————————————————————————————
Jika bunga bejana menyukai es krim neapolitan, apakah dia akan berwarna seperti warna es krim neapolitan?

4 kelopak
atau lima kelopak?
ungu
atau nila?
ah…
tanpa lensa minus delapan
bunga bejana terlihat kabur
19:38
300 meter dari Jalan Raya bogor KM 36,5

Jam 11 siang, Jalan Raya Bogor KM 34.
Oh. Aku menyesal pergi bersama Kurva Merah, bukan dengan Sierra Putih.
—————————————————————————————————
Sebelumnya, aku jelaskan dulu situasiku sekarang. Aku pergi bersama Kurva Merah ke Jalan Juanda. Tadinya, aku cuma mau melihat-lihat saja. Saat kami berdua pulang, aku melihat bunga bejana. Aku langsung membelinya tanpa berpikir dua kali. Lalu, aku beli pupuk dan pot yang besar. Aku sih santai saja karena Kurva Merah yang bawa, bukan aku.
Tapi…
Kasihan Kurva Merah. Keseimbangannya berkurang gara-gara membawa banyak barang. Aku juga kelelahan karena panas matahari.
Kami berdua sudah putus asa.
Diam-diam bunga bejana berbisik, “Kalian sudah melewati 30 kilometer kan? Berjuanglah.”
——————————
Ah. Iya ya. Aku adalah pengendara sepeda yang kuat kan? Panas bukanlah masalah yang besar.
——————————
Aku menambah kecepatanku. Mengatur gigi dan akselerasi. Tenagaku mungkin di ambang batas, tapi aku makin cepat menggowes pedal.
——————————
Jam 12.00. Jalan Raya Bogor KM 36,5. Akhirnya aku sampai di rumah. Aku langsung memandikan Kurva Merah yang terkena debu . Setelah itu, aku minum Milo dingin seperti biasa.

Kelopak pertama
Hijau
“Kami mulai tumbuh”
Kelopak kedua
Merah muda
“Kami sedang jatuh cinta”
Kelopak ketiga
Ungu
“Kami sedang ragu”
Kelopak empat
Biru
“Kami lebih dingin”
Kelopak terakhir
Coklat
“Kami di titik akhir”
18:02
300 km dari Jalan Raya Bogor KM 36,5

Bunga bejana tidak pernah membosankan untuk dipotret. Dari kuncup, mulai mekar, berwarna hijau, menjadi biru, lalu layu. Manis sekali. Dia terlihat lebih manis setelah hujan.
Sudah berapa kali aku memotret bunga bejana? Sepuluh? Dua puluh? Hmm… Mungkin lebih.
Kadang aku bermimpi aku mempunyai galeri foto bunga bejana.

Hujan belum berhenti. Aku masih menepi di halte kelabu bersama para manusia berbaju monokrom. Cuma aku sendiri dengan mata coklat dan baju biru.
“Kenapa kau sendirian?”
Aku mendengar sebuah suara. Aku menjawab suara itu,”Tidak. Aku tidak sendirian. Aku bersama para manusia monokrom.”
“Hihihi. Kau lucu. Kau sendirian. Cuma kau satu-satunya yang berbaju biru dan bermata coklat.”
Aku mulai resah. Suara siapa yang berani mengejekku?
“Baik. Aku sendiri. Kau puas?”
“Tidak. Biasa saja. Hei, bangau kertas. Daripada kau menetap di sini, kenapa kau tidak ke taman bunga bejana?”
“Taman bunga bejana?”
“Ya. taman bunga bejana. Di sana kau akan menemukan teman-temanmu yang berwarna biru.”
Teman?
“Aku tidak butuh teman. Sendirian juga tidak apa-apa.”
“Terserah. Kami cuma kasihan melihatmu kesepian. Kalau kau ke taman bunga bejana, setidaknya kau akan menemukan jawaban yang kau cari selama ini kan?”
“Tunggu. Apa maksudmu?”
“Maksud kami…”
Suara itu terhenti. Dan pada saat itu, hujan juga berhenti.
—————————————————————————————————
Aku akan pergi ke taman bunga bejana. Dibimbing suara hujan.
