“…Tidak, dia bukan suamiku, dia Bendoroku, yang dipertuanku, rajaku,. Aku bukan istrinya. Aku cuma budak sahaya yang hina-dina.”
=======================================================
Hari ini hari Senin. Artinya? Review buku yang Rina punya dong! ![]()
Hari ini, Rina mau mengulas sedikit tentang roman Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer.
Ada alasan kenapa Rina beli buku ini. Waktu mata kuliah Pengkajian Prosa Indonesia, dosen Rina menyuruh Rina dan teman-teman membuat esai tentang buku ini. Mau gak mau, suka gak suka, Rina beli buku ini. Awalnya Rina pikir Rina akan ngantuk baca buku ini. Tapi, ternyata tidak! Setiap halaman buku ini menghipnotis Rina untuk terus membaca dan mengikuti kisah hidup Gadis Pantai.
Bagi para penggemar karya sastra, buku ini wajib dibaca!
Apa yang membuat Gadis Pantai menarik?
Hal pertama yang membuat Gadis Pantai berbeda adalah cara Pramoedya “mematahkan” hati para pembaca. Jika kalian membayangkan kisah Gadis Pantai berakhir dengan bahagia, kalian salah! Di awal cerita, Rina berpikir, “Ah. Kayaknya sinopsis yang ada di belakang bukunya ngaco nih. Gadis Pantai pasti akan baik-baik aja sama Bendoro.”
Ternyata…
Di beberapa halaman terakhir, Pramoedya, dengan kejamnya, mematahkan impian Rina agar Gadis Pantai punya happy-ending.
Memang seperti apa sih akhirnya?
Hmm… Rina gak mau kasih spoiler dong. Nanti gak asik lagi baca buku ini. Tapi, gak ada salahnya kan Rina kasih ringkasannya?
Gadis Pantai hanyalah gadis biasa yang tinggal di kampung nelayan di Blora. Kehidupannya yang miskin dan sederhana berubah saat dia menikah dengan seorang bendoro. Walaupun dibilang menikah, Gadis Pantai tidak menjadi nyonya pembesar. Dia hanya dijadikan Mas Nganten, pemuas nafsu bendoro.
Tidak selamanya jadi istri bangsawan merupakan hal yang indah. Di awal pernikahannya, Gadis Pantai merasa terkurung. Dia merindukan kehidupan lamanyanya di pesisir. Bukan hanya kesepian yang dideritanya. Gadis Pantai hampir dibunuh oleh salah satu kerabat bendoro.
Mengingat Pramoedya adalah seorang sosialis, tidak heranlah kita merasakan roman ini adalah bentuk ketidaksetujuan Pram terhadap feodalisme.
Nah. Kalian makin penasaran dengan buku ini kan? Sebaiknya kalian baca deh! Selain menambah wawasan tentang sastra, kalian bisa memetik pelajaran dari buku ini!
Oh ya! Rina menulis esai tentang Gadis Pantai lho! Silakan dibaca di sini.








