Mahasiswa, unjuk rasa, BBM, dan pemikiran kritis

Di akhir Maret ini, masalah kenaikan BBM diributkan oleh semua orang. Akibat dari keributan ini adalah demo terjadi di ibukota. Kalau dipikir secara sepintas, kenaikan BBM memang merugikan semua orang, terutama masyarakat golongan ekonomi lemah. Walaupun demikian, haruskah demonstrasi dilakukan? Pemerintah kita sudah tuli. Telinga mereka tertutupi duli. Percumalah protes sama orang budek.

Saya jadi ingat perkataan Rara hari ini,

“Puncak demonstrasi itu tahun 1998. Jadi, percumalah ada demo. Pemerintah tuh udah kebal sama demo.”

(kalau salah, tolong betulkan ya, Ra.)

Saat saya mendengar perkataan Rara, saya jadi ingat teman-teman yang sedang unjuk rasa. Kasihan sekali mereka. Protes mereka tidak didengar oleh pemerintah.

Nah… Daripada mahasiswa unjuk rasa dan hasilnya sia-sia, kenapa mereka tidak memikirkan pemecahan masalah BBM ini? Lebih baik cari solusi daripada protes ke pemerintah. Mahasiswa itu inovator, bung!

“Sesuatu banget” = anomali frase? (Ketauan ya Rina baru belajar Morfologi -_-”)

Akhir-akhir ini, frase sesuatu banget menjadi populer. Entah siapa yang mempopulerkannya, yang jelas dia pasti bukan mahasiswa sastra Indonesia. Kenapa Rina berani ngomong begitu?

Biasanya kata banget mengikuti kata sifat, misalnya: tinggi banget, berat banget, dan panas banget. Alasan Rina mempermasalahkan ini karena sesuatu itu kan pronomina (kata ganti), bukan adjektiva… -_-”

Rina posting hal ini di Plurk. Kata temen Rina, “Berarti ini termasuk anomali frase ya, Dil”

Hmm… Bahasa Indonesia informal makin aneh aja. -_-” Makin lama dipelajari, makin sadar bahwa bahasa itu memang aneh.

Environmentalism Spirit part 3: Sampah dibuang ke mana?

Ide gila ini terlintas di otak Rina saat pulang dari kampus tadi sore.

————————————————————————————————-

Rina disuruh mencari deret konsonan oleh Bu Sri (dosen Fonologi). Saat Rina mengecek deret konsonan /gm/, Rina menemukan kata magma. Terus, entah kenapa Rina menghubungkan magma dengan sampah.

Jadi, Rina berpikir kenapa sampah yang ada di seluruh dunia tidak dimasukkan ke kawah gunung berapi. Di kelas MPKT B, Rina mendapatkan informasi bahwa di Samudra Pasifik ada “pulau sampah”. Kalau sampah dari seluruh dunia menumpuk terus di sana, kasihan ikan-ikannya… Tempat tinggal mereka jadi rusak deh.

Makanya, untuk menyelamatkan ikan-ikan yang imut di Samudra Pasifik, kenapa sampah gak dibuang ke kawah gunung berapi? Kalau dibuang ke kawah, sampahnya akan lebur kan? Jadinya gak usah repot-repot mengubur, mendaur ulang, atau membakar sampah.

Hmm…. Bagaimana menurut kalian?

Environmentalism Spirit part 2

Setiap aku mencuci baju, aku selalu memikirkan tanah gambut di Kalimantan. Alasannya bisa dibilang sangat konyol…

Di pelajaran Geografi, terdapat bab yang membahas tentang tanah. Salah satu jenis tanah adalah tanah gambut. Tanah gambut merupakan tanah yang kadar keasamannya tinggi. Biasanya, jenis tanah ini ada di Kalimantan, Sumatera, dan Papua. Hanya tanaman jenis tertentu yang bisa hidup di atas tanah ini.

Guru Geografi di NF pernah bilang bahwa jenis tanah yang bagus adalah tanah dengan pH normal.

Karena kata-kata guru Geografiku, aku jadi mempunya ide. Bagaimana kalau seluruh air bekas cucian di Indonesia dikumpulkan dan lalu disiram ke tanah gambut di Kalimantan? Kalau Kalimantan subur, pasti tanaman pangan bisa ditanam di sana sehingga Indonesia gak akan mengalami krisis kekurangan pangan. Terus, Indonesia bisa mengekspor hasil pangan dan pendapatan Indonesia makin bertambah.

Kalau air bekas cucian bisa dimanfaatkan, maka limbah yang ada di Laut Jawa dan Samudera Indonesia akan berkurang. Jadi gak ada lagi lumba-lumba dan makhluk laut yang lain keracunan.

Belajar sambil ngenet…

Akhir-akhir ini, aku dan teman-temanku sering belajar lewat MSN messenger. Di MSN, kami membahas soal-soal dari guru atau dari buku. Cara ini kami rasa lumayan efektif… Apalagi, kami membahas soal pelajaran Try Out keesokan harinya.

Seharusnya internet dimanfaatkan untuk belajar, bukan cuma untuk Facebook dan Twitter. Miris kalau melihat temen-temen di sekolah yang kurang memanfaatkan pelayanan internet untuk pelajaran. Seharusnya temen-temenku buka Wikipedia. Bukan cuma FB, Twitter, dan sejenisnya.

Terkadang aku berpikir kalau kualitas generasi muda di Indonesia makin rendah karena tidak ada pembatasan dalam pemakaian internet… D:

Hari yang cerah untuk jiwa yang mengantuk

Cuaca di Jakarta pagi ini sangat pas untuk tidur. Udara dingin dan kelasku adem. Suasananya sangat mendukung untuk tidur. Ditambah lagi, hari ini pelajaran Bu Yusi (Bahasa Indonesia). Aku pasti makin mengantuk. Oya. Hari ini di sekolah mati lampu untuk ratusan kalinya. Mungkin tenaga listriknya tidak bisa mencukupi kebutuhan sekolah. Wajar kalau setiap kelas di SMAN 109 Jakarta tidak dipasang AC.

Ngomong-ngomong soal AC. Kalau semua sekolah di Jakarta dipasang AC setiap kelas, bukannya itu sama saja mendukung pemanasan global ya. Bukannya AC yang menyebabkan lapisan Ozon makin menipis?
Hmm… Kalau aku sudah pulang sekolah, aku harus cari info tentang pemanasan global dan lapisan Ozon di Wikipedia. Mungkin aja ini bisa dijadikan tema esai untuk tugas Bahasa Indonesia.

I hate smokers!!!!!!!!!!!!!!!

Sore ini, saat aku pulang sekolah naik D 06, ada seorang penumpang (kakek-kakek yang berusia sekitar >60 tahun) merokok. Yang lebih menyebalkan, asap rokoknya sampe terhirup olehku. Dan di angkot itu bukan cuma aku dan kakek-kakek itu, ada ibu dan kedua anaknya yang masih kecil!!!

Nyebelin banget kan????

Ada juga cerita tentang perokok yang nyebelin. Waktu aku naik M 04, ada bapak-bapak yang ngerokok. Pas dia nyalain api pakai korek api, koreknya langsung dibuang ke lantai 04 tanpa dia matikan. Untung apinya langsung mati. Yang lebih parah, saat batang rokoknya sudah pendek, dia langsung buang ke lantai tanpa dimatikan. Lalu, setelah mengamati selama 2 menit, api di puntung rokok itu belum mati. Aku langsung menginjak puntung rokok tersebut di depan perokok tersebut. Seluruh penumpang langsung melihat ke arahku. Terutama ibu-ibu yang merasa kesal karena perokok itu telah mengganggu kenyamanan penumpang yang lain.

Ngomong-ngomong, guru Bahasa Indonesia yang mengajariku waktu aku kelas XI sangat benci rokok. Kalau beliau naik angkutan umum dan ada perokok di angkutan umum itu, beliau langsung turun.

Seandainya tembakau tidak dijadikan rokok.

Kira-kira, rokok bisa dijadikan bahan alternatif gak?

Take me away, saraba bad days! Wanna break free, oikakete!

Sejak bedah kampus UI, aku jadi makin memikirkan masa depanku. Aku makin bingung untuk kuliah. Aku gak yakin untuk meneruskan kuliah. Karena cita-citaku yang sebenarnya adalah menjadi chef dan keliling dunia.

Aku sebenarnya ingin jadi S1 karena aku ingin membuat orang tua-ku bangga. Tapi, sepertinya kuliah membosankan. Aku beranggapan bahwa keliling dunia lebih seru daripada kuliah.

Mungkin karena aku mempunyai jiwa petualang, makanya aku ingin keliling dunia. Saking niatnya, aku sudah membuat daftar barang yang akan kubawa untuk keliling dunia, yaitu:

  1. Dahon Curve D3
  2. Peta dunia
  3. HP & MP4
  4. Jaket
  5. Baju ganti
  6. Madu
  7. Sajadah, mukena, sarung
  8. Diary & pulpen stabillo
  9. Kompas
  10. Kamera

Daftar ini bisa aja aku update karena aku belum buat daftar prioritas.

Ngomong-ngomong, aku sempat berpikir bagaimana caranya aku pergi ke benua Asia. Soalnya kalau aku ke Benua Asia, aku harus melewati Laut Cina Selatan dan masuk lewat Thailand. Terus, kalau aku ingin ke Amerika, aku harus melewati Samudera Atlantik yang sangat luas. Berarti, aku cuma bisa keliling Asia dan Eropa.

Kenapa aku tidak mungkin ke Afrika? Karena untuk ke Afrika, jalan yang terdekat adalah Terusan Suez. Untuk melewati Terusan Suez, aku harus melewati Palestina dan Israel yang sedang terjadi konflik.

Dasar orang Yahudi. Mereka benar-benar menyusahkan.

Argh!!! Seandainya ada orang yang mau membiayai aku untuk keliling dunia…